MAKALAH
Ilmu Kebatinan
PARYANA SURYADIPURA
Dosen Pengampu : Drs. M. Damiri Ali
Disusun
Oleh
Nama: Npm:
Rozali Bangsawan 1331060011
Riko
Yohanes 1331060070

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN)
RADEN INTAN LAMPUNG
FAKULTAS USHULUDIN JURUSAN
AKHLAK DAN TASAWUF
2015/2016
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Untuk mengetahui latar
belakang sejarah timbulnya kebatian, terlebih dahulu harus mengetahui sejarah
kebudayaan spritual sejak zaman prasejarah. Kebudayaan spriritual pada zaman
prasejarah pada hakikatnya adalah kepercayaan primitif yang terdapat diberbagai
belahan dunia yang disebut dinamisme dan animisme, kebudayaan spiritual pada
zaman prasejarah sebenarnya tidak banyak yang dapat diketahui, melainkan hanya
bagian yang terakhir yang disebut zaman neolithik dan megalithic.
Ketika kehidupan bangsa
indonesia mulai mengenal bercocok tanam, mereka telah memiliki tradisi
menghormati orang tua yang mempunyai peranan memimpin. Tradisi ini kemudian
berkembang menjadi kultus yang kelak melahirkan konsepsi keagamaan yang
dimanifestasikan dalam pendirian bangunan-bangunan megalithic.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Paryana
Surya Dipura
Penjelasan
tentang siapakah sebenarnya R. Paryana Suryadipura belum dapat diperoleh ,
karena tidak terdapat tulisan atau sumber informasi lainnya yang menerangkan
riwayat hidupnya. Satu-satunya keterangan yang tertera pada halaman judul
bukunya alam pikiran ia adalah
seorang dokter dan mantan pimpinan Rumah Sakit Umum Pusat Semarang.
Selanjutnya
pada pendahuluan bukunya ia mengatakan bahwa dunia sekarang ini makin lama
makin kacau, dan sifat manusia makin lama makin kejam. Hal ini sejajar dengan
meningkatnya ilmu pengetahuan dan hasil teknik yang gemilang. Secara hipotesis
tiap kejadian tidak lepas dari hukum sebab-akibat. Karenanya keadaan dunia yang
syarat dengan permusuhan dan kekacauan perlu dicari dan diteliti faktor-faktor
yang menjadi penyebabnya. Ia mencari dari sudut pendidikan. Dunia sekarang kata
paryana, sangat didominasi oleh ilmu pengetahuan dan teknik.
Keadaan
yang demikian menurut Paryana, adalah sebagai akibat dari tumbuhnya aliran
filsafat yang berdasarkan ilmu pengetahuan eksak dan teknik yang disebut realisme dan positivesme, yang mengakibatkan
tumbuhnya egoisme, liberalisme, materialisme, kapitalisme dan
imperialisme. Ini semua adalah produk
dari akal manusia. Padahal manusia adalah satu-satunya jenis makhluk yang
dikaruniai akal yang dapat dipergunakan untuk berfikir, baik yang berjasad
maupun yang abstrak. Suatu ketika manusia harus sadar akan kekeliruan dan
kesalahannya, kemudian mengubah cara berpikir menurut kaidah atau norma yang
benar. Menurut pendapat Hegel, yang sebenarnya di sebut memikir adalah meningkatkan pikiran dari keadaan yang berjasad
kearah keadaan yang abstrak terutama tuhan.
Dalam
kata pengantar cetakan pertama, sebenarnya paryana telah mengatakan dengan
jelas tujuannya menulis buku Alam
Pikiran, yaitu ingin menemukan rahasia hidup yang sejati. Keinginannya itu
dilatarbelakangi oleh keprihatinanya melihat
keadaan dunia yang semakin kacau dan sifat manusia yang semakin kejam.
Keadaan yang sedemikian itu sebagia akibat dari penyelenggaraan pendidikan yang
hanya mementingkan kemajuan intelektual
semata dan mengabaikan pendidikan kebatian dan kerohanian.
Pikiran-pikiran
dan ideologi Paryana yang dikemukakan didlam buku alam pikiran intinya mengedepankan pentingnya eksistensi rohani
sebagai unsur utama manusia, disamping unsur jasmaninya, karenanya,
pikiran-pikiran dan ideologinya itu bersifat modern, dimana kajian-kajian itu
mengutamakan pendekatan ilmu pengetahuan alam dan eksakta dan didukung oleh
patokan-patokan dari kitab suci agama, terutama kitab suci Al-Quran dan Kitab
Injil, Vedanta, dan Bagavat Gita serta di dukung oleh berbagai anggapan para
ahli filsafat.
B. Hipotesis-hipotesis Paryana
1.
Hipotesis tentang susunan dan hakikat
kenyataan Rohani
Dalam
upaya untuk menemukan rahasia hidup yang
sejati, paryana mengemukakan hipotesis tentang susunan dan hakikat kenyataan
rohani, ada tiga faktor yang menjadi penyebab timbulnya hipotesis ini. Pertama, adanya berbagai kenyataan yang
telah diketehui oleh ilmu pengetahuan modern. Kedua, adanya patokan-patokan yang ditetapkan oleh agama. Ketiga,adanya berbagai anggapan para
ahli filsafat. Ketiga faktor ini menurut Paryana memberi petunjuk kearah mana
kebenaran suci itu harus dicari. Hipotesis berpangkal pada hukum kekekalan
tenaga dan tenaga elekton hidup atau bion. Dan rohani tersusun dari bion-bion
atau elektron hidup.
2.
Hipotesis serba tenaga dipandang dari
sudut Agama Islam
Kepercayaan
kepada alam akhirat merupakan patokan yang penting dalam sumua agama terutama
agama islam. Keterangan tentang rahasia hidup setelah mati, tidak ada yang
lebih jelas selain agama islam. Menurut hipotesis serba tenaga, demikian
paryana menjelaskan, bahwa rohani itu adalah bagian tubuh manusia yang tetap hidup abadi dan tersusun dari
bion-bion yang bebas, tidak dapat dilihat,didengar, dan diraba, karena tidak
tampak.ia mengutib terjemahan ayat al-quran al-sajadah (32;17), Atinya “tidak ada makhluk yang dapat
mengetahuai apa yang tersimpan baginya.”
Hipotesis
serba tenaga menganggap bahwa kelompok bion-bion yang disebut rohani itu, suatu
makhluk hidup yang dapat hidup abadi di alam akhirat. Ia mengnutip terjemah
ayat al-quran surat al-fathir (35;34-35). Artinya
”tuhan memberikan ampun kepada kita didalam rumah yang tetap abadi ; pekerjaan
yang melelahkan tidak akan tampak dan rasa lelah tidak akan menimpa didalam
rumah itu.- ayat al-quran ini
menurut paryana menguatkan anggapan hipotesis serba tenaga, bahwa rohani itu
adalah makhluk hidup.
Rohani
itu tumbuhnya karena jasmani. Ia mengutip terjemah ayat al-quran surat
al-waqiah (56: 57-61) Artinya ” kami
menciptakan kamu, oleh sebab apa kamu tidak percaya kepada hakikatnya?. Apakah
kamu telah memikirkan pusat hidup? Apakah kamu yang mengadakan, atau apakah
kami yang menjadi khaliknya? Kami menetapkan bahwa kamu sekalian akan mati,
akan tetapi kami tidak akan dapat dikalahkan agar kami dapat mengubah
sifat-sifatnya dan menjadikan kamu apa yang kamu tidak ketahui.
C.
Konsep
Tuhan dan Alam Menurut Paryana
1.
Konsep Tuhan
Penjelasan
tentang konsep tuhan menurut paryana didalam buku alam pikiran tidak berdiri
sendiri tetapi menyatu dengan penjelasan tentang alam. Tuhan dikatakan berada
di alam Lahut. Alam Lahut yang terisi melulu Zat Tuhan juga dinamakan “samudra
taufik yang tak berpantai”. Alam Lahut atau Alat Ilahi digambarkan telah ada
sebelum ada keadaan, yang tak diadakan, yang tak ada awal dan tak berbentuk.
Satu-satunya perkataan yang dapat digunakan untuk menguraikan adalah Yang
Mutlak (Het Absolute).
Uraian
Paryana tentang konsep Tuhan tersebut diatas bila disimak secara cermat, dari
satu sisi agak mirip dengan konsep penciptaan dalam literatur filsafat islam,
khususnya uraian Paryana bahwa dari yang Mutlak (Tuhan) timbullah kesadaran
akan dirinya sendiri. Dari kesadaran timbul keinsyafan akan adanya Ingsun yang
disebut Aku pertama. Urauan ini mengingatkan kita kepada konsep penciptaan
menurut al-farabi yang menyatakan bahwa Tuhan sebagai Akal berfikir terutama
dirinya, dari pemikiran ini timbul (memancar) wujud lain yang disebut Akal
Pertama.
2.
Konsep Alam
Menurut
Vedanta Ada tiga alam yang terpenting, yaitu bhuloka
(alam kebendaan), dewa-loka (alam Jin), dan sura-loka (alam Malaikat). Menurut
kaum sufi ada empat alam yaitu: alam Nasut, alam Jabarut, alam Malaikat, Alam
Lahut.
Pertama,
alam Nasut atau alam kebendaan atau bhu-loka adalah alam yang didasari manusia
setelah ia dilahirkan.
Kedua,
alam Jabarat atau Dewa-Loka adalah alam tempat segala pikiran berkumpul dan
beristirahat.
Ketiga,
alam malaikat atau sura-loka adalah alam angan-angan atau pikiran.
Keempat,
alam Lahut atau alam Ilahi, yang hanya didiami oleh zat tuhan. Alam ini
digambarkan seperti samudra taufik yang tak berpantai.
Uraian
paryana tentang konsep alam, bila dicermati juga sedikit terkait dengan konsep
Vadenta karena menurut paryama alam nasut identik dengan Bhu-loka, Alam Jabarut identik dengan Dewa-loka, dan Alam Malakut identik
dengan sura-loka.
D. Konsep Manusia Menurut Paryana
Konsep
manusia menurut paryana, sama dengan yang diketahui oleh umumnya orang. Manusia
itu mempunyai badan kasar atau jasmani dan badan halus atau rohani, ialah badan
lahir dan badan batin. Badan jasmani dilengkapi dengan pancaindra beserta
peralatannya ( mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit). Selain panca indra
jasmani juga dilengkapi dengan otak sebagai alat untuk berfikir, dan
nafsu-nafsu.
Salah
satu uraian tentang pancaindra yang menarik dari konsep Paryana, adalah teori
melihat dengan mata gaib. Sebagai telah diuraikan dimuka, bahwa rohani tersusun
dari elektron-elektron hidup yang memancar dari jasmani. Dengan hipotesis ini
maka dapat diterangkan bagaimana seseorang dapat melihat dengan mata gaib.
Dalam hubungan ini Paryana menceritakan tentang seseorang yang bernama Kuda Bux
yang dalam keadaan matanya ditutup rapat dengan pembalut tetapi masih dapat
membaca buku. Ia dapat meliha dengan pertolongan rohaninya.
Selain panca indera, jasmani juga
dilengkapi dengan otak. Didalam otak terdapat empat pusat, yaitu pusat
kesadaran, pusat ingatan, pusat akal, dan pusat kemauan yang selalu
bekerjasama. Susunan persyarafan pusat terdiri dari otak besar, otak kecil,
pangkal otak, dan sumsung punggung.
Menurut
Paryana pembicaraan tentang nafsu-nafsu,ilmu jawa timur menemukan kemurniannya
didalam tasawuf islam. Berbagai tasawuf isting dalam tasawuf islam disebut
nafsu-nafsu yang lebih rasional dan lebih memuaskan dari pada ilmu jiwa barat.
Tasawuf islam hanya mengenal dua nafsu pokok, yaitu syahwat dan godhob. Syahwat
adalah nafsu keinginan yang menyertai pikiran, syahwat terdiri dari dua aspek
yaitu keinginan buruk di sebut supiah dan
keinginan suci di sebut mutmainna. Godhob
adalah kemurkaan yang selalu mempengaruhi pikiran. Godhob mengandung dua
aspek, yaitu kemurkaaan disebut amarah dan nafsu memelihara disebut lawwamah.
Selanjutnya
tentang proses memikir menurut paryana bukan proses kimia, tetapi proses
listrik. Dasar tenaga tubuh adalah fenomena listrik, berhubung dengan itu, maka
soal memikir dapat dipecahkan dengan proses listrik sebagai dasar uraian.
Masing-masing alat pengindra mempunyai perangsang sendiri-sendiri. Perangsang
ini adalah tenaga yang berubah menjadi tenaga listrik setelah melewati
pancaindra. Tenaga listrik ini mula-mula mengalir kedalam pangkal otak,
kemudian masuk kedalam pusat kesadaran didalam otak besar. Pusat kesadaran
tenaga listrik ini mengalir kedalam pusat ingatan. Disni tangkapan pancaindra
diikat (lekat) dan menjadi ingatan yang tersimpan. Tenaga listrik yang
berkumpul didalam pusat ingatan mengadakan tekanan listrik, dari tempat tekanan
yang tinggi akan mengalir arus listrik ketempat tekanan yang rendah. Dari pusat
ingatan arus listrik mengalir kepusat akal.
Hipotesi
tentang proses memikir, berdasarkan atas tenaga-tenaga yang masuk kedalam otak
melalui pancaindra, tidak mungkin dapat disangkal kebenarannya. Tenaga-tenaga
ini menurut hukum kekekalan tenaga didalam otak berubah menjadi tenaga listrik.
Tenaga listrik ini hidup karena berasal dari bagian-bagian tubuh yang hidup.
Berhubung tenaga listrik ini hidup, maka tenaga ini juga disebut tenaga listrik
hayati yang berbeda sifatnya dari tenaga listrik teknik.
Sebagaimana
telah disebutkan bahwa pangkal otak adalah tempat nafsu-nafsu dan
ajakan-ajakan. Oleh karena itu, tenaga yang datang dari pangkal otak akan
menjelma menjadi nafsu dan ajakan berpadu dengan tenaga-tenaga yang datang dari
lain tempat, hingga pikiran kita sebenarnya selalu disertai oleh nafsu-nafsu
dan ajakan-ajakan. Yang pokok ialah syahwat dan godhob. Ada tiga ajakan tenaga
syahwat yang menggerakkan jiwa manusia, yaitu :
(1)
Ajakan mengadakan perbuatan untuk
kepentingan diri sendiri.
(2)
Ajakan mengadakan perbuatan untuk
kepentingan orang lain.
(3)
Ajakan mengadakan perbuatan untuk tuhan
(paryana:58-59)
Hakikat dari keadaan yang transenden belum
dapat diketahui oleh ilmu pengetahuan. Keadaan yang transenden ini adalah
rohani. Ilmu pengetahuan mengekui adanya roh disamping zat. Yang dimaksud dengan
roh ialah tenaga-tenaga hidup yang
immanen di dalam jasad-jasad yang dihidupkan olehnya, disamping roh ada
keadaan yang mengatasi jasmani yang disebut rohani atau suksma. Untuk dapat
menerangkan soal-soal kejiwaan yang dapat dimengerti, perlu meneliti hakikat
dari rohani.
Hakikat
rohani dalam pandangan agama, pertama bahwa disebutkan didalam kitab Veda, jiwa
dan roh itu baka. Rohani dalam pandangan agama islam berbeda dengan roh, karena
roh itu ada pada semua makhluk hidup, pada tumbuh-tumbuhan disebut roh nabati
dan pada hewan disebut roh hayawani.
Pusat akal merupakan badan tersendiri dalam
mengatur pikiran manusia. Pusat akal ini disebut “badan akal’’, didalam
terminologi Hindu dinamakan manas. Dari pusat akal tenaga-tenaga tadi mengalir
kepusat kemauan, menjelma menjadi amal perbuatan.
Buddhi
didalam tasawuf islam dinamakan Akal juhud dan didalam terminologi hindu
dinamakan badan buddhi. Bagian buddhi yang menerima sinar Tuhan (nur ilahi)
disebut badan-rahsa didalam tasawuf islam dinamakan akal syaropi atau rahsa
(rahasia), didalam terminologi hindu dinamakan atman. Sebagai penjelasan
berikut ini digambarkan tentang gerak pikiran manusia dal bentuk bagan :
|
No
|
Filsafat
Hindu
|
Tasawuf
Islam
|
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
|
Atma
Atman
Buddhi
Manas
Kama
Prena
Etherisdubbel
Rupa
|
Nur
ilahi
Rahsa
(rahasia, akal syaropi, ulul-albab, makrifat tercapai)
Akal
juhud (hakikat tercapai)
Akal
atoi, dengan nama diperoleh tarekat. Akal ajiji dan kasabi dengan mana di
peroleh serengat
Nafsu
Pikir
(nalar)
Rasa
jasmani
|
Ketuhanan
Kerohanian
Keakalan
Kenafsuan
Kebendaan
|
E. Konsep Insan Kamil Menurut Paryana
Sebagaimana
telah diuraikan dibagian awal, bahwa pikiran-pikiran paryana yang dituangkan
dalam buku alam pikiran merupakan sebuah tanggapan terhadap kekacauan dunia
zaman modern, sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan
mengabaikan kebutuhan hidup rohani.
Mengapa
kemajuan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi dizaman modern ini tidak membawa
kesejahtraan dan kedamaian bagi manusia?
Karena kemajuan yang dicapai hanya berdasarkan pemikiran akal semata dan
aliran filsafat yang mengandung kesalahan. Cara berpikir manusia modern yang
menganut filsafat hidup materealistis yang membawa kerusakan dan kekacauan
menurut paryana harus diganti dan diperbarui. Metode berpikir yang benar
menurut paryana ialah apabila pikiran itu ditingkatkan ke arah buddhi menuju
kepada tuhan, apabila tingkatan ini berhasil diraih, inilah tingkatan kehidupan
yang oleh parya disebut “manusia sempurna’’ atau insan kamil
Berhubungan
dengan itu, maka pembaharuan umat manusia dewasa ini dan kedepan dalam meraih
tingkatan manusia sempurna menurut paryana adalah mengembalikan umat manusia
kepada kesadaran adanya tuhan. Kesadaran akan adanya tuhan tidak mungkin dapat
diperoleh tanpa melakukan penyembahan kepadanya.
Menyembah
kepada tuhan yang maha esa, sebagaimana telah disebutkan bahwa kesadaran akan
adanya tuhan tidak mungkin diperoleh tanpa melakukan penyembahan kepada nya.
Kewajiban melakukan penyembahan kepada tuhan dibuktikan dengan melakukan
shalat, paryana tidak menentukan agama yang mana yang harus dipilih, disini ia
menyebut istilah shalat. Dengan demikian diinterprestasikan bahwa paryana
cenderung menentukan agama islam. Bahkan selanjutnya ia banyak menerangkan
tentang apa yang dimaksud dengan shalat. Akan tetapi, keterangan-keterangan
tentang shalat tidak diperoleh dari kalangan ahli agama islam, melainkan
peroleh dari para ahli ilmu jiwa modern.
Diantara
keterangan-keterangan itu adalah seperti berikut: a) sarindari shalat ialah
tuntunan batin untuk memperoleh hubungan yang ada diluar kenyataan. b) shalat
suatu bukti adanya rasa cinta bukti terhadap sesuatu yang menciptakan kegaiban
hidup. c) shalat adalah dengan sadar mencapai hubungan dengan suksma semesta
alam dan kita butuh pada itu. d) shalat bukan minta-minta dengan doa yang
diucapkan dengan kerendahan. e) shalat adalah mengeluarkan arus batin yang tidak dapat dikatakan dengan kata-kata.
f) shalat ialah kemauan yang diruncingkan kearah tuhan. g) kekuatan shalat yang
memberi hiburan dan menambah keteguhan terletak di dalam kenyataan, bahwa
manusia sesuatu kepada siapa ia dapat meminta pertolongan.
Mengendalikan
nafsu-nafsu, menurut paryana nafsu itu ada dua macam, yaitu nafsu sosial dan
nafsu asosial. Nafsu sosial adalah nafsu-nafsu yang melanggar hukum masyarakat
seperti nafsu mewah, nafsu kikir, nafsu tidak peduli pada orang lain, dan
sebagainya sedangkan nafsu asosial adlah nafsu-nafsu yang melanggar patokan
agama, seperti mencuri, merampas, membunuh, nafsu yang terbesar, kata paryana
mengutip terjemah hadis, bahwa tidak ada kemenangan yang lebih besar dari pada
kemenangan atas nafsunya sendiri, perang suci yang berjasa ialah perang
terhadap nafsunya sendiri.
Selanjutnya
Pendidikan anak-anak, oleh karena sebagian besar dari umat manusia itu sangat terikat dengan kehidupan yang
mengutamakan kenikmatan indra, maka sukar sekali menginsafkannya agar merka
mengubah pandangan hidupnya. Maka dari itu upaya untuk membangun umat manusia
terutama generasi mendatang titik beratnya terletak pada pendidikan anak-anak.
Menurut
ilmu jiwa, kehidupan manusia mulai dari kandungan ibu sampai dewasa terbagi
menjadi lima masa,
Pertama, masa
didalam kandungan. Seorang ibu yang sedang mengandung harus menjaga
kandungannya benar-benar, agar yang ada didalam kandungan tidak terganggu oleh
emosi seperti rasa takut, benci, cemburu, marah, serakah, dan sebagainya.
Kedua, masa
hayati yaitu mulai dari lahir sampai umur enam tahun. Pada masa ini alam si
anak dikuasai oleh instingnya yang mendorong dirinya untuk memperoleh makanan
dan minuman. Insting ini dalam pertumbuhannya akan menjadi insting mementingkan
diri sendiri.
Ketiga, masa
kemantapan antara umur enam sampai dua belas tahun. Pada masa ini yang berkuasa
adalah insting berjuang. Maka, anak-anak pada masa ini suka berkelahi, terutama
anak laki-laki. Untuk menjaga agar nafsunya dapat dikendalikan perlu diadakan
pendidikan yang mengutamakan tat tertib. Selain itu juga harus ditumbuhkan rasa
cinta kepada sesama hidup, juga kepada binatang.
Keempat, masa
akil balig mulai dari umur dua belas tahun dan memuncak pada umur dua puluh
tahun. Pada masa ini mulai tumbuh insting birahi dengan kerasnya. Maka, nafsu
birahi ini perlu dikendalikan dengan jalan berolah raga, aktif dalam kesenian
dan belajar agama.
Kelima, masa
kebatinan mulai umur dua puluh tahun. Pada masa ini mereka mulai merasakan kesukaran
hidup mungkin dalam bidang ekonomi, atau moral dan kemasyarakatan, atau dalam
hubungan asmara, dan sebagainya. Denagan adanya kesukaraan yang beraneka ragam
itu, mereka mulai ingin mengetahui rahasia hidup
F.
Konsep Mistik Menurur Paryama
Istilah
mistik disini mengandung makna union mystic atau persatuan antara manusia dan
tuhan, di dalam kepustakaan kebatinan disebut manunggaling kawula gusti. Teori
mistik dalam kebatinan bertitik tolak pada pandangan bahwa segala sesuatu yang
hidup itu satu atau tunggal. Manusia dipandang sebagai percikan dari zat hidup
yang meliputi segala sesuatu. Manusia mempunyai dua segi lahir dan batin.
Melalui segi batin manusia dapat mencapai persatuan dengan zat hidup atau
tuhan.
Adapun
konsep mistik menurut paryana secara eksplisit dinyatakan dalam buku alam
pikiran, harus memenuhi tahapa-tahapan tertentu, yaitu beragama dalam arti
menyadari akan adanya sesuatu yang maha kuasa yang disebut tuhan. Melakukan
shalat sebagai pemenuhan tuntunan batin untuk memperoleh hubungan langsung
dengan yang maha tinggi dan mengendalikan nafsu sebagai syarat penting dalam
menempuh jalan menuju kesempurnaan hidup, untuk berhadpan dengan tuhan dan
mencapai makrifat tuhan sebagai insan kamil.
BAB III
Penutup
Kesimpulan
Dalam
kata pengantar cetakan pertama, sebenarnya paryana telah mengatakan dengan
jelas tujuannya menulis buku Alam
Pikiran, yaitu ingin menemukan rahasia hidup yang sejati. Keinginannya itu
dilatarbelakangi oleh keprihatinanya melihat
keadaan dunia yang semakin kacau dan sifat manusia yang semakin kejam.
Keadaan yang sedemikian itu sebagia akibat dari penyelenggaraan pendidikan yang
hanya mementingkan kemajuan intelektual
semata dan mengabaikan pendidikan kebatian dan kerohanian.
Pikiran-pikiran
dan ideologi Paryana yang dikemukakan didlam buku alam pikiran intinya mengedepankan pentingnya eksistensi rohani
sebagai unsur utama manusia, disamping unsur jasmaninya, karenanya,
pikiran-pikiran dan ideologinya itu bersifat modern, dimana kajian-kajian itu
mengutamakan pendekatan ilmu pengetahuan alam dan eksakta dan didukung oleh
patokan-patokan dari kitab suci agama, terutama kitab suci Al-Quran dan Kitab
Injil, Vedanta, dan Bagavat Gita serta di dukung oleh berbagai anggapan para
ahli filsafat.
DAFTAR
PUSTAKA
Iman S, Suwarno. Konsep
Tuhan Manusia Mistik Dalam Berbagai Kebatinan Jawa, Jakarta: PT Raja Grfindo Persada, 2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar