Senin, 31 Oktober 2016

Ilmu Kebatinan PARYANA SURYADIPURA



MAKALAH
Ilmu Kebatinan
PARYANA SURYADIPURA
Dosen Pengampu : Drs. M. Damiri Ali





Disusun
Oleh


Nama:                                                              Npm:
       Rozali Bangsawan                           1331060011
                   Riko Yohanes                                  1331060070






INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
RADEN INTAN LAMPUNG
FAKULTAS USHULUDIN JURUSAN AKHLAK DAN TASAWUF
2015/2016





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Untuk mengetahui latar belakang sejarah timbulnya kebatian, terlebih dahulu harus mengetahui sejarah kebudayaan spritual sejak zaman prasejarah. Kebudayaan spriritual pada zaman prasejarah pada hakikatnya adalah kepercayaan primitif yang terdapat diberbagai belahan dunia yang disebut dinamisme dan animisme, kebudayaan spiritual pada zaman prasejarah sebenarnya tidak banyak yang dapat diketahui, melainkan hanya bagian yang terakhir yang disebut zaman neolithik dan megalithic.
Ketika kehidupan bangsa indonesia mulai mengenal bercocok tanam, mereka telah memiliki tradisi menghormati orang tua yang mempunyai peranan memimpin. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi kultus yang kelak melahirkan konsepsi keagamaan yang dimanifestasikan dalam pendirian bangunan-bangunan megalithic.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Paryana Surya Dipura
Penjelasan tentang siapakah sebenarnya R. Paryana Suryadipura belum dapat diperoleh , karena tidak terdapat tulisan atau sumber informasi lainnya yang menerangkan riwayat hidupnya. Satu-satunya keterangan yang tertera pada halaman judul bukunya alam pikiran ia adalah seorang dokter dan mantan pimpinan Rumah Sakit Umum Pusat Semarang.
Selanjutnya pada pendahuluan bukunya ia mengatakan bahwa dunia sekarang ini makin lama makin kacau, dan sifat manusia makin lama makin kejam. Hal ini sejajar dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan hasil teknik yang gemilang. Secara hipotesis tiap kejadian tidak lepas dari hukum sebab-akibat. Karenanya keadaan dunia yang syarat dengan permusuhan dan kekacauan perlu dicari dan diteliti faktor-faktor yang menjadi penyebabnya. Ia mencari dari sudut pendidikan. Dunia sekarang kata paryana, sangat didominasi oleh ilmu pengetahuan dan teknik.
Keadaan yang demikian menurut Paryana, adalah sebagai akibat dari tumbuhnya aliran filsafat yang berdasarkan ilmu pengetahuan eksak dan teknik yang disebut realisme  dan  positivesme, yang mengakibatkan tumbuhnya egoisme, liberalisme, materialisme, kapitalisme dan imperialisme. Ini semua adalah produk dari akal manusia. Padahal manusia adalah satu-satunya jenis makhluk yang dikaruniai akal yang dapat dipergunakan untuk berfikir, baik yang berjasad maupun yang abstrak. Suatu ketika manusia harus sadar akan kekeliruan dan kesalahannya, kemudian mengubah cara berpikir menurut kaidah atau norma yang benar. Menurut pendapat Hegel, yang sebenarnya di sebut memikir adalah meningkatkan pikiran dari keadaan yang berjasad kearah keadaan yang abstrak terutama tuhan.
Dalam kata pengantar cetakan pertama, sebenarnya paryana telah mengatakan dengan jelas tujuannya menulis buku Alam Pikiran, yaitu ingin menemukan rahasia hidup yang sejati. Keinginannya itu dilatarbelakangi oleh keprihatinanya melihat  keadaan dunia yang semakin kacau dan sifat manusia yang semakin kejam. Keadaan yang sedemikian itu sebagia akibat dari penyelenggaraan pendidikan yang hanya mementingkan  kemajuan intelektual semata dan mengabaikan pendidikan kebatian dan kerohanian.
Pikiran-pikiran dan ideologi Paryana yang dikemukakan didlam buku alam pikiran intinya mengedepankan pentingnya eksistensi rohani sebagai unsur utama manusia, disamping unsur jasmaninya, karenanya, pikiran-pikiran dan ideologinya itu bersifat modern, dimana kajian-kajian itu mengutamakan pendekatan ilmu pengetahuan alam dan eksakta dan didukung oleh patokan-patokan dari kitab suci agama, terutama kitab suci Al-Quran dan Kitab Injil, Vedanta, dan Bagavat Gita serta di dukung oleh berbagai anggapan para ahli filsafat.

B.     Hipotesis-hipotesis Paryana
1.      Hipotesis tentang susunan dan hakikat kenyataan Rohani
Dalam upaya untuk menemukan  rahasia hidup yang sejati, paryana mengemukakan hipotesis tentang susunan dan hakikat kenyataan rohani, ada tiga faktor yang menjadi penyebab timbulnya hipotesis ini. Pertama, adanya berbagai kenyataan yang telah diketehui oleh ilmu pengetahuan modern. Kedua, adanya patokan-patokan yang ditetapkan oleh agama. Ketiga,adanya berbagai anggapan para ahli filsafat. Ketiga faktor ini menurut Paryana memberi petunjuk kearah mana kebenaran suci itu harus dicari. Hipotesis berpangkal pada hukum kekekalan tenaga dan tenaga elekton hidup atau bion. Dan rohani tersusun dari bion-bion atau elektron hidup.
2.      Hipotesis serba tenaga dipandang dari sudut Agama Islam
Kepercayaan kepada alam akhirat merupakan patokan yang penting dalam sumua agama terutama agama islam. Keterangan tentang rahasia hidup setelah mati, tidak ada yang lebih jelas selain agama islam. Menurut hipotesis serba tenaga, demikian paryana menjelaskan, bahwa rohani itu adalah bagian tubuh manusia  yang tetap hidup abadi dan tersusun dari bion-bion yang bebas, tidak dapat dilihat,didengar, dan diraba, karena tidak tampak.ia mengutib terjemahan ayat al-quran al-sajadah (32;17), Atinya “tidak ada makhluk yang dapat mengetahuai apa yang tersimpan baginya.”
Hipotesis serba tenaga menganggap bahwa kelompok bion-bion yang disebut rohani itu, suatu makhluk hidup yang dapat hidup abadi di alam akhirat. Ia mengnutip terjemah ayat al-quran surat al-fathir (35;34-35). Artinya ”tuhan memberikan ampun kepada kita didalam rumah yang tetap abadi ; pekerjaan yang melelahkan tidak akan tampak dan rasa lelah tidak akan menimpa didalam rumah itu.-  ayat al-quran ini menurut paryana menguatkan anggapan hipotesis serba tenaga, bahwa rohani itu adalah makhluk hidup.
Rohani itu tumbuhnya karena jasmani. Ia mengutip terjemah ayat al-quran surat al-waqiah (56: 57-61) Artinya ” kami menciptakan kamu, oleh sebab apa kamu tidak percaya kepada hakikatnya?. Apakah kamu telah memikirkan pusat hidup? Apakah kamu yang mengadakan, atau apakah kami yang menjadi khaliknya? Kami menetapkan bahwa kamu sekalian akan mati, akan tetapi kami tidak akan dapat dikalahkan agar kami dapat mengubah sifat-sifatnya dan menjadikan kamu apa yang kamu tidak ketahui.


C.      Konsep Tuhan dan Alam Menurut Paryana
1.         Konsep Tuhan
Penjelasan tentang konsep tuhan menurut paryana didalam buku alam pikiran tidak berdiri sendiri tetapi menyatu dengan penjelasan tentang alam. Tuhan dikatakan berada di alam Lahut. Alam Lahut yang terisi melulu Zat Tuhan juga dinamakan “samudra taufik yang tak berpantai”. Alam Lahut atau Alat Ilahi digambarkan telah ada sebelum ada keadaan, yang tak diadakan, yang tak ada awal dan tak berbentuk. Satu-satunya perkataan yang dapat digunakan untuk menguraikan adalah Yang Mutlak (Het Absolute).
Uraian Paryana tentang konsep Tuhan tersebut diatas bila disimak secara cermat, dari satu sisi agak mirip dengan konsep penciptaan dalam literatur filsafat islam, khususnya uraian Paryana bahwa dari yang Mutlak (Tuhan) timbullah kesadaran akan dirinya sendiri. Dari kesadaran timbul keinsyafan akan adanya Ingsun yang disebut Aku pertama. Urauan ini mengingatkan kita kepada konsep penciptaan menurut al-farabi yang menyatakan bahwa Tuhan sebagai Akal berfikir terutama dirinya, dari pemikiran ini timbul (memancar) wujud lain yang disebut Akal Pertama.
2.         Konsep Alam
Menurut Vedanta  Ada tiga alam yang terpenting, yaitu bhuloka (alam kebendaan), dewa-loka (alam Jin), dan sura-loka (alam Malaikat). Menurut kaum sufi ada empat alam yaitu: alam Nasut, alam Jabarut, alam Malaikat, Alam Lahut.
Pertama, alam Nasut atau alam kebendaan atau bhu-loka adalah alam yang didasari manusia setelah ia dilahirkan.
Kedua, alam Jabarat atau Dewa-Loka adalah alam tempat segala pikiran berkumpul dan beristirahat.
Ketiga, alam malaikat atau sura-loka adalah alam angan-angan atau pikiran.
Keempat, alam Lahut atau alam Ilahi, yang hanya didiami oleh zat tuhan. Alam ini digambarkan seperti samudra taufik yang tak berpantai.
Uraian paryana tentang konsep alam, bila dicermati juga sedikit terkait dengan konsep Vadenta karena menurut paryama alam nasut identik dengan Bhu-loka, Alam Jabarut identik dengan Dewa-loka, dan Alam Malakut identik dengan sura-loka.
D.    Konsep Manusia Menurut Paryana
Konsep manusia menurut paryana, sama dengan yang diketahui oleh umumnya orang. Manusia itu mempunyai badan kasar atau jasmani dan badan halus atau rohani, ialah badan lahir dan badan batin. Badan jasmani dilengkapi dengan pancaindra beserta peralatannya ( mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit). Selain panca indra jasmani juga dilengkapi dengan otak sebagai alat untuk berfikir, dan nafsu-nafsu.
Salah satu uraian tentang pancaindra yang menarik dari konsep Paryana, adalah teori melihat dengan mata gaib. Sebagai telah diuraikan dimuka, bahwa rohani tersusun dari elektron-elektron hidup yang memancar dari jasmani. Dengan hipotesis ini maka dapat diterangkan bagaimana seseorang dapat melihat dengan mata gaib. Dalam hubungan ini Paryana menceritakan tentang seseorang yang bernama Kuda Bux yang dalam keadaan matanya ditutup rapat dengan pembalut tetapi masih dapat membaca buku. Ia dapat meliha dengan pertolongan rohaninya.
Selain panca indera, jasmani juga dilengkapi dengan otak. Didalam otak terdapat empat pusat, yaitu pusat kesadaran, pusat ingatan, pusat akal, dan pusat kemauan yang selalu bekerjasama. Susunan persyarafan pusat terdiri dari otak besar, otak kecil, pangkal otak, dan sumsung punggung.
Menurut Paryana pembicaraan tentang nafsu-nafsu,ilmu jawa timur menemukan kemurniannya didalam tasawuf islam. Berbagai tasawuf isting dalam tasawuf islam disebut nafsu-nafsu yang lebih rasional dan lebih memuaskan dari pada ilmu jiwa barat. Tasawuf islam hanya mengenal dua nafsu pokok, yaitu syahwat dan godhob. Syahwat adalah nafsu keinginan yang menyertai pikiran, syahwat terdiri dari dua aspek yaitu keinginan buruk di sebut supiah dan keinginan suci di sebut mutmainna. Godhob adalah kemurkaan yang selalu mempengaruhi pikiran. Godhob mengandung dua aspek, yaitu kemurkaaan disebut amarah dan nafsu memelihara disebut lawwamah.
Selanjutnya tentang proses memikir menurut paryana bukan proses kimia, tetapi proses listrik. Dasar tenaga tubuh adalah fenomena listrik, berhubung dengan itu, maka soal memikir dapat dipecahkan dengan proses listrik sebagai dasar uraian. Masing-masing alat pengindra mempunyai perangsang sendiri-sendiri. Perangsang ini adalah tenaga yang berubah menjadi tenaga listrik setelah melewati pancaindra. Tenaga listrik ini mula-mula mengalir kedalam pangkal otak, kemudian masuk kedalam pusat kesadaran didalam otak besar. Pusat kesadaran tenaga listrik ini mengalir kedalam pusat ingatan. Disni tangkapan pancaindra diikat (lekat) dan menjadi ingatan yang tersimpan. Tenaga listrik yang berkumpul didalam pusat ingatan mengadakan tekanan listrik, dari tempat tekanan yang tinggi akan mengalir arus listrik ketempat tekanan yang rendah. Dari pusat ingatan arus listrik mengalir kepusat akal.
Hipotesi tentang proses memikir, berdasarkan atas tenaga-tenaga yang masuk kedalam otak melalui pancaindra, tidak mungkin dapat disangkal kebenarannya. Tenaga-tenaga ini menurut hukum kekekalan tenaga didalam otak berubah menjadi tenaga listrik. Tenaga listrik ini hidup karena berasal dari bagian-bagian tubuh yang hidup. Berhubung tenaga listrik ini hidup, maka tenaga ini juga disebut tenaga listrik hayati yang berbeda sifatnya dari tenaga listrik teknik.
Sebagaimana telah disebutkan bahwa pangkal otak adalah tempat nafsu-nafsu dan ajakan-ajakan. Oleh karena itu, tenaga yang datang dari pangkal otak akan menjelma menjadi nafsu dan ajakan berpadu dengan tenaga-tenaga yang datang dari lain tempat, hingga pikiran kita sebenarnya selalu disertai oleh nafsu-nafsu dan ajakan-ajakan. Yang pokok ialah syahwat dan godhob. Ada tiga ajakan tenaga syahwat yang menggerakkan jiwa manusia, yaitu :
(1)   Ajakan mengadakan perbuatan untuk kepentingan diri sendiri.
(2)   Ajakan mengadakan perbuatan untuk kepentingan orang lain.
(3)   Ajakan mengadakan perbuatan untuk tuhan (paryana:58-59)
 Hakikat dari keadaan yang transenden belum dapat diketahui oleh ilmu pengetahuan. Keadaan yang transenden ini adalah rohani. Ilmu pengetahuan mengekui adanya roh disamping zat. Yang dimaksud dengan roh ialah tenaga-tenaga hidup yang  immanen di dalam jasad-jasad yang dihidupkan olehnya, disamping roh ada keadaan yang mengatasi jasmani yang disebut rohani atau suksma. Untuk dapat menerangkan soal-soal kejiwaan yang dapat dimengerti, perlu meneliti hakikat dari rohani.
Hakikat rohani dalam pandangan agama, pertama bahwa disebutkan didalam kitab Veda, jiwa dan roh itu baka. Rohani dalam pandangan agama islam berbeda dengan roh, karena roh itu ada pada semua makhluk hidup, pada tumbuh-tumbuhan disebut roh nabati dan pada hewan disebut roh hayawani.
 Pusat akal merupakan badan tersendiri dalam mengatur pikiran manusia. Pusat akal ini disebut “badan akal’’, didalam terminologi Hindu dinamakan manas. Dari pusat akal tenaga-tenaga tadi mengalir kepusat kemauan, menjelma menjadi amal perbuatan.
Buddhi didalam tasawuf islam dinamakan Akal juhud dan didalam terminologi hindu dinamakan badan buddhi. Bagian buddhi yang menerima sinar Tuhan (nur ilahi) disebut badan-rahsa didalam tasawuf islam dinamakan akal syaropi atau rahsa (rahasia), didalam terminologi hindu dinamakan atman. Sebagai penjelasan berikut ini digambarkan tentang gerak pikiran manusia dal bentuk bagan :
No
Filsafat Hindu
Tasawuf Islam

1

2


3

4



5

6

7

8
 Atma

 Atman


Buddhi

Manas



Kama

Prena

Etherisdubbel

Rupa


Nur ilahi

Rahsa (rahasia, akal syaropi, ulul-albab, makrifat tercapai)

Akal juhud (hakikat tercapai)

Akal atoi, dengan nama diperoleh tarekat. Akal ajiji dan kasabi dengan mana di peroleh serengat

Nafsu

Pikir (nalar)

Rasa

jasmani
Ketuhanan

Kerohanian


Keakalan





Kenafsuan



Kebendaan


E.     Konsep Insan Kamil Menurut Paryana
Sebagaimana telah diuraikan dibagian awal, bahwa pikiran-pikiran paryana yang dituangkan dalam buku alam pikiran merupakan sebuah tanggapan terhadap kekacauan dunia zaman modern, sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan mengabaikan kebutuhan hidup rohani.
Mengapa kemajuan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi dizaman modern ini tidak membawa kesejahtraan dan kedamaian bagi manusia?  Karena kemajuan yang dicapai hanya berdasarkan pemikiran akal semata dan aliran filsafat yang mengandung kesalahan. Cara berpikir manusia modern yang menganut filsafat hidup materealistis yang membawa kerusakan dan kekacauan menurut paryana harus diganti dan diperbarui. Metode berpikir yang benar menurut paryana ialah apabila pikiran itu ditingkatkan ke arah buddhi menuju kepada tuhan, apabila tingkatan ini berhasil diraih, inilah tingkatan kehidupan yang oleh parya disebut “manusia sempurna’’ atau insan kamil
Berhubungan dengan itu, maka pembaharuan umat manusia dewasa ini dan kedepan dalam meraih tingkatan manusia sempurna menurut paryana adalah mengembalikan umat manusia kepada kesadaran adanya tuhan. Kesadaran akan adanya tuhan tidak mungkin dapat diperoleh tanpa melakukan penyembahan kepadanya.
Menyembah kepada tuhan yang maha esa, sebagaimana telah disebutkan bahwa kesadaran akan adanya tuhan tidak mungkin diperoleh tanpa melakukan penyembahan kepada nya. Kewajiban melakukan penyembahan kepada tuhan dibuktikan dengan melakukan shalat, paryana tidak menentukan agama yang mana yang harus dipilih, disini ia menyebut istilah shalat. Dengan demikian diinterprestasikan bahwa paryana cenderung menentukan agama islam. Bahkan selanjutnya ia banyak menerangkan tentang apa yang dimaksud dengan shalat. Akan tetapi, keterangan-keterangan tentang shalat tidak diperoleh dari kalangan ahli agama islam, melainkan peroleh dari para ahli ilmu jiwa modern.
Diantara keterangan-keterangan itu adalah seperti berikut: a) sarindari shalat ialah tuntunan batin untuk memperoleh hubungan yang ada diluar kenyataan. b) shalat suatu bukti adanya rasa cinta bukti terhadap sesuatu yang menciptakan kegaiban hidup. c) shalat adalah dengan sadar mencapai hubungan dengan suksma semesta alam dan kita butuh pada itu. d) shalat bukan minta-minta dengan doa yang diucapkan dengan kerendahan. e) shalat adalah mengeluarkan arus batin  yang tidak dapat dikatakan dengan kata-kata. f) shalat ialah kemauan yang diruncingkan kearah tuhan. g) kekuatan shalat yang memberi hiburan dan menambah keteguhan terletak di dalam kenyataan, bahwa manusia sesuatu kepada siapa ia dapat meminta pertolongan.
Mengendalikan nafsu-nafsu, menurut paryana nafsu itu ada dua macam, yaitu nafsu sosial dan nafsu asosial. Nafsu sosial adalah nafsu-nafsu yang melanggar hukum masyarakat seperti nafsu mewah, nafsu kikir, nafsu tidak peduli pada orang lain, dan sebagainya sedangkan nafsu asosial adlah nafsu-nafsu yang melanggar patokan agama, seperti mencuri, merampas, membunuh, nafsu yang terbesar, kata paryana mengutip terjemah hadis, bahwa tidak ada kemenangan yang lebih besar dari pada kemenangan atas nafsunya sendiri, perang suci yang berjasa ialah perang terhadap nafsunya sendiri.
Selanjutnya Pendidikan anak-anak, oleh karena sebagian besar dari umat manusia  itu sangat terikat dengan kehidupan yang mengutamakan kenikmatan indra, maka sukar sekali menginsafkannya agar merka mengubah pandangan hidupnya. Maka dari itu upaya untuk membangun umat manusia terutama generasi mendatang titik beratnya terletak pada pendidikan anak-anak.
Menurut ilmu jiwa, kehidupan manusia mulai dari kandungan ibu sampai dewasa terbagi menjadi lima masa,
Pertama, masa didalam kandungan. Seorang ibu yang sedang mengandung harus menjaga kandungannya benar-benar, agar yang ada didalam kandungan tidak terganggu oleh emosi seperti rasa takut, benci, cemburu, marah, serakah, dan sebagainya.
Kedua, masa hayati yaitu mulai dari lahir sampai umur enam tahun. Pada masa ini alam si anak dikuasai oleh instingnya yang mendorong dirinya untuk memperoleh makanan dan minuman. Insting ini dalam pertumbuhannya akan menjadi insting mementingkan diri sendiri.
Ketiga, masa kemantapan antara umur enam sampai dua belas tahun. Pada masa ini yang berkuasa adalah insting berjuang. Maka, anak-anak pada masa ini suka berkelahi, terutama anak laki-laki. Untuk menjaga agar nafsunya dapat dikendalikan perlu diadakan pendidikan yang mengutamakan tat tertib. Selain itu juga harus ditumbuhkan rasa cinta kepada sesama hidup, juga kepada binatang.
Keempat, masa akil balig mulai dari umur dua belas tahun dan memuncak pada umur dua puluh tahun. Pada masa ini mulai tumbuh insting birahi dengan kerasnya. Maka, nafsu birahi ini perlu dikendalikan dengan jalan berolah raga, aktif dalam kesenian dan belajar agama.
Kelima, masa kebatinan mulai umur dua puluh tahun. Pada masa ini mereka mulai merasakan kesukaran hidup mungkin dalam bidang ekonomi, atau moral dan kemasyarakatan, atau dalam hubungan asmara, dan sebagainya. Denagan adanya kesukaraan yang beraneka ragam itu, mereka mulai ingin mengetahui rahasia hidup


F.      Konsep Mistik Menurur Paryama
Istilah mistik disini mengandung makna union mystic atau persatuan antara manusia dan tuhan, di dalam kepustakaan kebatinan disebut manunggaling kawula gusti. Teori mistik dalam kebatinan bertitik tolak pada pandangan bahwa segala sesuatu yang hidup itu satu atau tunggal. Manusia dipandang sebagai percikan dari zat hidup yang meliputi segala sesuatu. Manusia mempunyai dua segi lahir dan batin. Melalui segi batin manusia dapat mencapai persatuan dengan zat hidup atau tuhan.
Adapun konsep mistik menurut paryana secara eksplisit dinyatakan dalam buku alam pikiran, harus memenuhi tahapa-tahapan tertentu, yaitu beragama dalam arti menyadari akan adanya sesuatu yang maha kuasa yang disebut tuhan. Melakukan shalat sebagai pemenuhan tuntunan batin untuk memperoleh hubungan langsung dengan yang maha tinggi dan mengendalikan nafsu sebagai syarat penting dalam menempuh jalan menuju kesempurnaan hidup, untuk berhadpan dengan tuhan dan mencapai makrifat tuhan sebagai insan kamil.



BAB III
Penutup

Kesimpulan
Dalam kata pengantar cetakan pertama, sebenarnya paryana telah mengatakan dengan jelas tujuannya menulis buku Alam Pikiran, yaitu ingin menemukan rahasia hidup yang sejati. Keinginannya itu dilatarbelakangi oleh keprihatinanya melihat  keadaan dunia yang semakin kacau dan sifat manusia yang semakin kejam. Keadaan yang sedemikian itu sebagia akibat dari penyelenggaraan pendidikan yang hanya mementingkan  kemajuan intelektual semata dan mengabaikan pendidikan kebatian dan kerohanian.
Pikiran-pikiran dan ideologi Paryana yang dikemukakan didlam buku alam pikiran intinya mengedepankan pentingnya eksistensi rohani sebagai unsur utama manusia, disamping unsur jasmaninya, karenanya, pikiran-pikiran dan ideologinya itu bersifat modern, dimana kajian-kajian itu mengutamakan pendekatan ilmu pengetahuan alam dan eksakta dan didukung oleh patokan-patokan dari kitab suci agama, terutama kitab suci Al-Quran dan Kitab Injil, Vedanta, dan Bagavat Gita serta di dukung oleh berbagai anggapan para ahli filsafat.       



DAFTAR PUSTAKA

Iman S, Suwarno. Konsep Tuhan Manusia Mistik Dalam Berbagai Kebatinan Jawa, Jakarta: PT Raja Grfindo Persada, 2005.